Kebiasaan

Ibarat pendulum, manusia juga sebenernya punya titik dimana itu jadi lokasi kesetimbangan dia. Mau segimana pun dia berbuat, kecenderungan fluktuasi kehidupanan pasti di sekitar kesetimbangan itu. Nah, menurut salah seorang dosenku, yang juga idenya ini bisa banget saya terima, titik setimbang ini adalah HABITS. Semua orang akan kembali pada kebiasaan ‘permanen’ dia, segimanapun dia mencoba perubahan-perubahan instant.

Dalam buku 7 Habits karya Stephen R. Covey (semoga Tuhan membalasnya dengan yang lebih baik), dikatakan bahwa pada setiap orang, terdapat pancaran konstan/permanen yang nggak terpengaruh lagi dari variasi-variasi kondisi atau sikap orang tersebut. Contohnya, entah kenapa kita percaya dengan seseorang yang bukan gara-gara dia pandai ngomong, atau ngebujuk orang, atau bahkan pinter komunikasi. Pokoknya kita percaya dia, karena dia kayak memancarkan suatu kepribadian yang konstan yang memang membuat kita percaya dengan dia (istilah lain : kharisma orang). Dan tiap orang punya sensor psikologis untuk menilai pancaran konstan ini, tanpa disadari.

Oke, masa bodo lah sebenernya dengan gimana orang lain memandang kita. Tapi yang paling kritis adalah, pemahaman kondisi permanen ini penting kalau kita ingin berubah menjadi lebih baik. Pernah mengalami kegagalan saat mencoba perubahan? Haha, saya juga sering. Dan sebenernya kegagalan ini memang alami terjadi, karena saya nggak paham dengan konsep kondisi permanen. Kayak semuanya malah kembali ke kondisi semula.

Pernah dengar hadits ini?

“Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit” (HR Bukhary)

Setelah dipelajari sedemikian lama, digabung dengan berbagai pengalaman, ternyata hadits ini super banget dikatikan dengan konteks “perubahan permanen” seseorang. Kalau boleh sedikit bikin tafsir versi pribadi, ‘amalan’ di sini memang literally konteks pada ibadah-ibadah, namun boleh aja ‘amalan’ ini kita generalisir menjadi gaya kerja, etika, sikap, kebiasaan-kebiasaan kecil, bahkan perkataan. Dan memang benar, bahwa apa yang kita lakukan terus-menerus secara spontan, akan mengatakan siapa kita sebenarnya dan dimana kondisi setimbang kita. Dan berarti juga, nggak pernah ada perubahan permanen bila kita mengandalkan perubahan-perubahan “besar” yang nggak bertahan lama. Kita akan selalu kembali ke kondisi yang sama, bila ‘terus-menerus’ ini nggak ter-maintain.

Dari hadits tersebut, saya ambil pelajaran bahwa kalau pengen berubah itu caranya simpel tapi berat: pilih satu item perubahan, lalu usahakan maintain/pertahankan selama mungkin, dan mesti bersabar bila mulai ada reaksi penolakan bahkan dari psikologi sendiri (alaminya, psikologi kita ingin pada kondisi yang setimbang) dalam me-maintain perubahan ini. Dari sini justru yang membuat, amalan kecil yang ter-maintain, satuan pahalanya bisa lebih berat di sisi Allah daripada amalan besar yang insidental, karena memang efeknya akan permanen!vKayaknya, tepat sekali dengan metode pengamalan Qur’an cara sebagian sahabat Rasulullah saw, yaitu selama 10 ayat Qur’an yang sedang dipelajari belum jadi habits, nggak akan dulu mempelajari 10 ayat yang lain.

Jadi, kesimpulannya adalah: pengen berubah? ubahlah KEBIASAAN. Dan ingat, investasinya akan besar bahkan untuk satu item kebiasaan yang sederhana.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s