Belajar Berbahasa Tidak Semudah Belajar Bahasa

Cukup banyak point yang bisa diambil setelah saya ikut test IELTS – salah satu tes Bahasa Inggris – resmi hari Sabtu lalu (18/01/2014), dalam kondisi persiapan yang diburu-buru karena memang nggak sempat. Lebih tepatnya, belum ngerasain sepenting apa sehingga ngerasa nggak perlu persiapan jauh hari. Saya ambil test tanggal seburu-buru itu sebenarnya memang ngejar deadline pendaftaran S2, yang mengharuskan ngirim dokumen profisiensi Bahasa Inggris paling lambat 1 Maret 2014. Dalam situasi banyak kerjaan yang sedang saya lakukan saat itu, mau gk mau ya move on saja, dengan persiapan “sebisanya”. Akhirnya, dengan niat yang cukup nekad sy langsung saja daftar IELTS, 2,2 juta pas kurs awal bulan Desember.

Persiapan yang lebih fokus baru bisa H-7 Test. Bermodalkan uang beberapa ratus ribu, saya beli buku-buku latihan IELTS yang ternyata jarang di pasaran. Mungkin test jenis ini kurang populer ketimbang TOEFL dan keluarganya. H-2 udah mulai seharian baca-baca dan latihan. Simpulan latihan selama seminggu tersebut adalah : 1) Reading harusnya bisa maksimum. 2) Listening, 70% dapet lah. 3) Writting & Speaking nggak bisa diharapkan. Cuma itu. Hopeless. Setelah latihan saya juga buat hipotesa – saat kesadaran mulai muncul – bahwa belajar itu bukan kayak gini caranya. Sebagian keterampilan sangat bergantung pada jam terbang. Tapi, mau gk mau ya move on saja.

Ternyata memang benar. Setelah test, saya coba membuat feedback buat diri sendiri. Test Listening, lumayan. Reading, di luar ekspektasi. Bagian Reading Passage terakhir, cukup sulit dicerna penugasannya. Writing, dari sisi jumlah kata dan isi cerita, lumayan. Walaupun masih menggunakan pemilihan kata English yang masih  basic. Speaking? Nah ini. Fail. Gugup sih nggak sama sekali, tapi pas tes Speaking, saya nggak puas banget dengan apa yang telah dilakukan. Benar2 kecewa saya saat itu, kecewa dengan diri sendiri.

Saya nggak mempermasalahkan “kenapa sih fail?”, tetapi yang sy pikirkan adalah, “kenapa saya fail?” Saya mencoba mencari hikmah yang bisa saya tambahkan dalam framework pribadi. Yang setidaknya walaupun test saya gagal (semoga tidak, amiin), 2.2 juta investasi yang saya keluarkan bisa diganti oleh pembelajaran yang ada.

Ditemani angin kencang berhembus saat naik motor (alah), saya baru terpikir bahwa sebagian hal memang nggak bisa diburu-buru, perlu proses lama, time constant nya besar. Secerdas apapun orang, tetap ada sebagian hal yang perlu LATIHAN & WAKTU (jam terbang) !! Hikmah ini yang saya kaitkan dengan kemampuan berkomunikasi langsung dalam suatu bahasa. Dan saya generalisir juga dalam aspek yang lain. Bodohnya, saya lupa bahwa selama ini konsep “jam terbang” sudah sangat baik diterapkan dalam urusan skill nyetir.

Baiklah, pengalaman ini jadi pembelajaran berharga untuk belajar berbahasa. Saya kira, belajar berbahasa nggak semudah belajar bahasa. Belajar bahasa, yang sifatnya teorikal, bisa semalam jadi. Tetapi, belajar berbahasa, bagaimana kita menerapkan konsep bahasa dalam keseharian. Entah itu berkomunikasi, menulis, mengungkapkan pendapat, merangkai kata, dsb, perlu latihan. So, saatnya investasi lagi untuk upgrading berbahasa (Inggris), haha.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Jurnal Pribadi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s